Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2017

Langgengnya Budaya Bali di Tengah Goncangan Globalisasi

Saat mendengar kata "Bali", hal pertama yang terlintas di pikiran kita pasti merujuk pada wisata. Ya, Bali selalu mampu menarik perhatian wisatawan dengan sejuta pesona yang melekat di tanahnya. Kita tentu tahu jika Bali merupakan salah satu kepulauan kecil yang terletak di Indonesia. Lalu, apakah yang dibanggakan tanah kecil ini hingga mampu menjadi magnet mancanegara? Lautkah? Pegunungankah? Atau objek wisata barangkali? Perlu diingat kembali bahwa hampir seluruh pulau di Indonesia memiliki kekayaan alam tersebut. Lalu, adakah hal lain yang membuat Bali terlihat lebih istimewa dari pulau lain? Tentu saja, Bali merupakan provinsi kecil dengan segudang daya tarik kebudayaan yang unik, adat istiadat yang kental juga tradisi-tradisi budaya yang masih berjalan sampai sekarang. Bali adalah salah satu provinsi di Indonesia yang masih mempertahankan warisan budaya dari para leluhur. Hal-hal unik yang tampak jelas saat siapapun menginjakkan kaki di Bali bisa dilihat dari be...

Gamelan Gender Wayang Tergerus Waktu

Tergerus oleh sang waktu, salah satu kesenian tradisional di Bali yang biasa disebut dengan "Gamelan Gender Wayang Bali" ini kian memudar. Masyarakat Bali khususnya pemuda dan pemudi Bali, dewasa ini sudah mulai jarang memainkan Gamelan Gender Wayang Bali dalam proses upacara di Bali. Salah satu hal yang sangat mengurangi kekhasan budaya Bali ini tidak boleh dibiarkan dan harus dikembangkan kembali agar kembali bangkit di masyarakat. Ditinggalkan oleh generasi masa kini, pemain atau penabuh gender kini semakin langka di Bali. Syukurnya, di Gianyar kesenian yang membutuhkan ketekunan dan talenta seni tinggi ini terus digenjot. Menghasilkan seniman cilik yang terus bertambah hingga membludak. Dibuktikan pada Kamis malam, 20 April 2017 mereka tampil secara massal dengan melibatkan 150 pemain gender anak-anak dan remaja. Satu per satu anak-anak dan remaja putra dan putri ini memasuki stage terbuka Balai Budaya Gianyar. Mereka bersiap menunjukkan kemahiran memainkan ...

Upacara untuk Hama

                     Upacara Mreteka Merana atau disebut Ngaben Tikus, sudah sering dilakukan oleh masyarakat Hindu  di Kabupaten Tabanan, khususnya oleh krama subak di wilayah desa pekraman .             Upacara Ngaben Tikus adalah suatu upacara yang digelar ketika wabah tikus menyerang sawah-sawah petani di Kabupaten Tabanan. Upacara seperti ini bisa dilakukan secara periodik, waktu pelaksanaan tergantung pengurus subak. Salah satu desa di Kabupaten Tabanan yang pernah melaksanakan upacara ini adalah Desa Adat Bedha, Kecamatan Tabanan. Upacara ini pernah diadakan tahun 1965 dan pada 17-19 Juli 2009. Baru-baru ini, tepatnya pada Selasa, 19 Oktober 2010 juga diadakan upacara serupa di Desa Adat Bedha.             Mreteka Merana terdiri dari dua kata yaitu kata mreteka dan kata merana . Mreteka artinya...

Madura Versi Bali

              Makepung adalah tradisi Bali yang sama seperti karapan sapi yang berasal dari Madura, hanya saja Makepung menggunakan hewan kerbau. Tradisi ini berasal dari kabupaten Jembrana, bali. Pada awalnya kegiatan untuk mengisi usai panen raya yang dilakukan di areal persawahan walaupun saat ini tidak harus dilakukan di persawahan.             Atraksi yang dilakukan di sawah ini berkembang sekitar tahun 1930. Hebatnya, disahkan secara nasional sebagai kesenian tak benda yang dimiliki oleh kabupaten Jembrana. Kesenian ini juga menjadi julukan untuk Kabupaten Jembrana yaitu “Bumi Makepung”. Selain itu juga dijadikan sebagai agenda tahunan pemerintah Kabupaten Jembrana yang dirangkaian dengan acara Festival Jembrana. Makepung memiliki arti berkejar-kejaran. Terdiri dari kerbau dan joki yang memakai kaos berkerah lengan panjang, pengikat kepala dan celana panjang. Kerbau beserta joki ...